Merespons Ironi Pasar Kerja: Membangun Resiliensi Profesional Lewat Jalan “Freelance”

Foto: Dokumentasi pribadi



Suatu pagi, sebelum antarkan adik bungsuku ke sekolah selepas melakukan aktivitas pekerjaan rumah tangga seperti cuci piring dan membersihkan lantai, saya meluangkan waktu untuk membaca harian Kompas dan membuka salah satu artikel yang berjudul “Ironi Pasar Kerja: Penganggur Bersaing dengan Pekerja Pencari Sampingan“. Membaca judul berita tersebut langsung menohok saya — karena saya ada di kedua sisi cerita itu sekaligus. Di tengah ketatnya persaingan lowongan kerja formal (seperti BUMN atau perusahaan swasta multinasional), diam dan sekadar menunggu panggilan wawancara bukanlah pilihan. Sambil menunggu panggilan kerja formal di tengah keadaan pasar kerja ini, saya tidak mau diam saja. Saya memilih menjadi pekerja lepas (Inggris: freelancer) dan Virtual Assistant untuk langsung mempraktikkan ilmu saya dalam memecahkan masalah bisnis secara nyata, mengasah empati terhadap kebutuhan klien, dan membuktikan bahwa saya adalah profesional yang adaptif.

Halo, semua. Perkenalkan nama saya Muhammad Fadlurrahman Imran, lulusan S-1 Psikologi di Universitas Hasanuddin (singkatan: UH/Unhas). Dan sampai artikel ini dimuat, saya sekarang ada di Kota Sorong. Sembari menunggu kabar baik dari lamaran kerja formal, keseharian saya dihabiskan di balik etalase toko suku cadang dan perkakas milik keluarga saya. Yang dimana saya melayani pembeli toko, mengatur stok, dan memahami kebutuhan pelanggan. Meskipun pekerjaan ini terasa monoton, hal ini justru membantu saya berkembang dalam melatih mental dan cara komunikasi kepada klien.

Setelah berbulan-bulan menjadi seorang kasir, saya menyadari bahwa pengalaman offline pun harus diimbangi dengan keahlian digital. Dengan keterampilan saya dalam mengembangkan website serta berbagai softskill yang saya miliki jika saya menjadi Customer Service, disinilah perjalanan saya dimulai. Saya pun memulainya sejak awal kedatangan saya di Kota Sorong, tidak hanya sekedar belajar dari toko keluargaku saja, melainkan berbagai pelatihan dan juga ujian kompetensi yang saya tempuh selama ini, seperti:

  • Mengenal dunia Virtual Assistant dan WordPress lewat mentor Indri Ariadna di kelas.work.
  • Mempertajam beberapa keterampilan seperti Excel hingga Customer Service lewat MySkill
  • Menguasai
  • Memperdalam fundamental mengenai UI/UX dan bahasa Inggris melalui Talent Class Kemnaker.
  • Mengasah skill teknis langsung melalui proyek Sistem Informasi Pariwisata lewat Laman Web di BPVP Sorong hingga mendapat sertifikasi BNSP.
  • Menyiapkan sertifikasi profisiensi (TOEIC) sebagai bukti kesiapan profesional global.


Setelah terkumpulnya berbagai sertifikat pelatihan dan e-learning, saya membuka jasa saya sebagai pengembang website WordPress untuk UMKM dan Customer Service Virtual Assistant (CS VA). Menjadi freelancer atau pekerja lepas saat ini bukanlah sebuah pelarian, melainkan strategi proaktif . Dengan menjadi freelancer, saya bisa melatih pengelolaan waktu, klien, dan ekspektasi. Ketiga keterampilan ini juga sama persis dengan yang dibutuhkan oleh seorang Manajer atau karyawan profesional di perusahaan formal.


Apakah Anda pemilik bisnis yang butuh website dan ingin bekerja sama dengan pengembang yang adaptif? Atau Anda perekrut yang mencari talenta dengan mental pembelajar? Mari terhubung di LinkedIn atau hubungi saya via e-mail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *